Crush, yang Bikin Hati Para Gadis Meleyot

Crush, yang Bikin Hati Para Gadis Meleyot

Siapa artis yang menjadi idola pertamamu? Kalau ditanya kayak gitu, jawabanku mungkin adalah Nicky Byrne, salah satu personil boyband Westlife. Entah apa asal-muasalnya, dulu saat SMP aku tergila-gila sama Nicky. Yang namanya punya idola dan tergila-gila, semua cara bisa dilakukan buat mengekspresikan cinta ya.

Banyak orang mau melakukan sesuatu yang dianggap gila buat pujaannya. Aku yang saat itu masih kinyis-kinyis rela mengumpulkan uang jajan buat beli segala merchandise Westlife, album kaset, CD bajakan, sampai langganan majalah Fantasi biar selalu dapat info terbarunya. Kalau nggak dapat booklet atau majalah spesial edisi Westlife, aku bahkan rela mem-fotokopi-nya.

Yang lebih gilanya lagi, selain mengumpulkan koleksi all about Westlife, aku menuliskan kata-kata I LOVE NICKY di setiap meja yang diduduki di kelas pakai pen correction. Kebetulan sistem duduk kami setiap hari bergeser setiap hari. It means, hampir semua meja ada tulisan itu. Puncaknya, semua tulisan ketahuan guru BP dan kami sekelas harus kerja bakti membersihkannya. Salah satu hal gila di masa puber yang nggak akan pernah aku lupa.

Tapi memang banyak hal gila yang biasa dilakukan penggemar terhadap idolanya. Kamu begitu juga nggak sama idolamu? Kayak yang diceritakan di drama yang satu ini, Crush.

Sinopsis Drama Crush

Drama: Crush
Native Title: 原来我很爱你
Also Known As: It Turns Out I Love You Very Much , So I Love You Very Much , Yuan Lai Wo Hen Ai Ni , Yun Loi Ngo Han Oi Nei , 原來我很愛你 , Qin He Yi Kan , 衾何以堪
Director: Yu Cui Hua
Screenwriter: Yang Yi Xun
Genres: Friendship, Romance, Life, Youth, Drama
Country: China
Episodes: 24
Original Network: iQiyi, iQiyi
Duration: 40 min.
Content Rating: 13+ – Teens 13 or older

Sang Wu Yan (Wan Peng) punya cita-cita menjadi penyiar radio. Ia ngefans sekali dengan penulis lagu bernama Yi Jin karena lagu-lagunya selain enak didengar juga memiliki syair yang bagus. Namun, cita-cita Wu Yan sebagai penyiar tidak linear dengan bidang yang ia pelajari saat kuliah karena sesungguhnya Wu Yan sedang menempuh pendidikan jurusan psikologi atas keinginan orang tuanya.

Saat harus magang untuk syarat kelulusan, Wu Yan memilih untuk menjadi guru di sebuah Sekolah Luar Biasa. Di sekolah luar biasa itu, ia bertemu Su Nian Qin (Lin Yan Jun), seorang cowok ganteng yang pernah ia kagumi saat pertama kali bertemu di tepi danau. Sayangnya, Su Nian Qin sangat dingin, arogan, dan cenderung menutup diri. Selain itu, ia juga memiliki disabilitas penglihatan.

Walaupun dingin dan arogan. Wu Yan kagum dengan Nian Qin karena selain ganteng, laki-laki itu sangat hangat pada murid-muridnya dan pandai bermain piano. Apalagi setelah ia tahu bahwa Nian Qin adalah Yi Jin, idolanya. Dengan segala cara, Wu Yan menarik perhatian Nian Qin. Bahkan, Wu Yan tidak pernah risih atau keberatan dengan disabilitasnya.

Hati Nian Qin yang sedingin es, lama-lama pun luluh. Dia mulai terbuka dan jatuh cinta dengan Wu Yan. Kehidupan selanjutnya sebagai sepasang kekasih pun mereka jalani. Sayangnya, orang tua Wu Yan tahu dan sang ibu sangat tidak setuju dengan pilihan anaknya. Apalagi status keluarga Nian Qin pun masih abu-abu. Hal ini membuat hubungan Wu Yan dan sang ibu menjadi memanas.

Di tengah panasnya hubungan ibu-anak, ayah Wu Yan tiba-tiba sakit. Nian Qin juga harus menghadapi kenyataan kalau ayah yang dibencinya juga di ambang maut karena sakit parah. Karena mereka saling sibuk dengan masalah keluarga masing-masing, kesalahpahaman pun terjadi. Puncaknya, Wu Yan sangat marah dengan Nian Qin karena menuduh orang tuanya seenaknya sendiri dan mereka pun berpisah.

Tiga tahun berlalu. Wu Yan pulang ke kampung halamannya setelah putus untuk menemani sang ibu. Ia pun menjadi penyiar di sebuah stasiun radio kecil. Sementara Nian Qin berhasil mendapatkan penglihatannya setelah melalui proses operasi dan menjadi CEO untuk perusahaan sang ayah. Hidup mereka banyak berubah, yang masih tetap adalah rasa yang mereka simpan satu sama lain.

 

[irp posts=”486″ name=”Please Feel at Ease Mr. Ling, Kisah Cinta Klise CEO dan Gadis Miskin”]

Hingga akhirnya Wu Yan dan Nian Qin bertemu dalam suatu kesempatan. Sayangnya, Wu Yan masih memendam kemarahan pada Nian Qin. Sementara Nian Qin masih merasa bersalah terhadap Wu Yan. Lalu, bisakah mereka bersatu kembali dan merasakan cinta yang masih ada selama ini?

Review Drama Crush

Drama ini sebenarnya sudah lama aku download cuma angot-angotan mau ditonton karena coloringnya mengingatkanku dengan drama horor, haha. Padahal review-review yang aku lihat, banyak penonton khususnya cewek-cewek yang baper, nggak bisa move on, sampai meleyot dibuat oleh kisah cinta mereka.

[irp posts=”687″ name=”Mengagumi Hubungan yang Dewasa di You are My Glory”]

Aku sih sempat skeptis ya, apa iya sih se-bikin meleyot itu? Pas aku nonton sendiri, baru ngeh kenapa gadis-gadis muda pada meleyot sampai akhirnya drama ini viral di Tiktok dan nongkrong di deretan no 1 di platform iQiyi.

Yuk, kita bahas satu per satu.

Su Nian Qin adalah tokoh utama laki-laki dalam drama ini. Salah satu alasan kenapa banyak gadis meleyot adalah karena emang wajahnya yang ganteng, tipikal wajah idol. Awalnya, karena kepribadiannya yang muram, aku juga biasa aja sama Nian Qin. Tapi pas udah jatuh cinta dan sering senyum, ternyata emang dia ganteng. Apalagi kalau udah pakai kacamata, bikin hati nggak cuma para gadis tapi juga ibu-ibu macam aku ambyar.

Sayangnya, kepribadian Nian Qin ini jelek banget awalnya. Dia pemarah, egois, jutek, arogan, dan dingin. Alih-alih jatuh cinta, aku malah sebel di episode-episode awal sama dia karena ya childish banget ternyata. Tapi, kepribadiannya masih bisa dimaklumi karena kemungkinan selain dia difabel sehingga menutupi rasa insecure-nya dengan sikap dingin dan arogan, dia juga kurang kasih sayang orang tua.

Di episode-episode pertengahan, setelah keuwuan mereka pacaran aku bahkan belum jatuh cinta sama karakter Nian Qin. Apalagi di episode saat dia pisah sama Wu Yan, nontonnya sakit sampai ke tulang. Sebagai seorang ibu dan mengambil sudut pandang orang tua, ya begitulah yang biasa dilakukan orang tua sama anaknya. Jangankan melepas anak perempuannya pada sosok yang difabel dan nggak jelas pekerjaan tetapnya apa, melepas anaknya pada sosok yang ideal pun pasti ketar-ketir.

Kekhawatiran kayak apakah anakku akan diperlakukan dengan baik dan penuh cinta tuh selalu jadi pertanyaan terbesar orang tua. Apalagi kalau sang anak dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Ibu Wu Yan pun nggak pernah ada menghina Nian Qin. Dia cuma kontra dan pada akhirnya berpesan kalau Wu Yan anak kesayangannya harus dijaga baik-baik. Toh pada akhirnya orang tua Wu Yan merelakan siapapun pilihan sang anak.

Sayangnya, Nian Qin nggak paham itu. Dia malah menuduh orang tua Wu Yan menganggapnya beban dan sakit orang tuanya mengada-ada biar Wu Yan pulang. Hiiihh, sebel banget. Mana pas Wu Yan sebelum pulang diamuk dulu, pas pulang nggak ditelepon saacan-acan nanyain kabar, giliran pas udah capek dan susah-susah balik ke Xiamen malah dihina-dina. Kalau aku jadi Wu Yan, lakik kek begini mah langsung diblok dari hati.

Untungnya di paruh kedua episode drama ini, Nian Qin berubah karakternya perlahan jadi baik dan bucin banget. Tipikal lead male Drama China lah. Aku tahu kenapa hati para gadis meleyot, ya karena baiknya Nian Qin itu nggak lebay dan cringe. Dia sering melakukan sesuatu yang kayaknya kecil tapi menyentuh hati.

Istimewanya drama ini adalah lead male dibuat berbeda dari Drama China yang biasanya. Lead male Drama China itu identik dengan kesempurnaan, tapi ini nggak. Apalagi ketidaksempurnaannya tuh kelihatan banget, yaitu difabel. Nian Qin menderita (sepertinya) low vision, bukan buta total. Yah, walaupun pada akhirnya juga dia menjelma jadi sosok yang sempurna. Apalagi pas udah jadi CEO, dahlah tipikal Drachin banget. Karakternya nggak lagi istimewa, untung masih ketolong sama akting unyunya.

mayungin Wu Yan begini aja udah bikin hati para gadis meleyot

Btw, ternyata ini debut Evan Lin di drama ya dan dia langsung jadi male lead. Yang aku baca, background-nya adalah idol. Tapi aku salut sih karena aktingnya emang keren kalau memang sebelumnya belum pernah main drama. Apalagi pas jadi orang buta, dia tahu cara mengekspresikan wajah dan perasaan seorang difabel yang hatinya dingin. Aktingnya sangat natural. Padahal kalau liat BTS-nya, kepribadiannya bertolak belakang dari itu. Suaranya juga bagus banget dan dia cakap memainkan alat musik. Pas banget untuk memerankan tokoh Nian Qin.

Kalau untuk urusan memeleyotkan hati, aku percaya kalau idol mah jagonya. Apalagi parasnya ganteng. Ditambah sikapnya dia ke Wu Yan juga baik banget. Bucinnya pas. Hanya saja, wajah Evan Lin ini kurang cocok jadi wajah bapak-bapak. Masih kemudaan banget karena pas jadi ayah, diceritain usia Nian Qin tuh udah 30 plus.

Karakter Wu Yan ini menurutku adalah sosok yang baik banget. Dia cantik, hangat, pantang menyerah, selalu pengen bikin orang lain bahagia, baik, nggak mandang orang dari keterbatasan fisiknya, hanya saja sedikit rapuh dan clumsy. Lha bayangin aja, dia mengidolakan Nian Qin tapi pas tahu perangai idolanya buruk dia tetap ngefans dan malah penasaran. Udah gitu, Wu Yan doesn’t matter dengan segala keterbatasan Nian Qin.

Wu Yan juga punya cita-cita tapi nggak mau merusak keinginan orang tuanya. Ia rela kuliah jurusan psikologi seperti ayahnya tapi belajar otodidak jadi penyiar dengan magang di stasiun radio. Buat memperjuangkan Nian Qin, dia juga sampai melawan ibunya. Pas scene ini aku sampe rada sebal sama Wu Yan karena sebegitunya suka sama Nian Qin sampe emaknya dilawan. Makanya pas Wu Yan disakiti sama Nian Qin aku nggak rela, udah sebaik dan seberkorban itu sama Nian Qin tapi malah dilukai hatinya.

Hanya saja aku rada janggal dengan karakter Wu Yan di episode-episode akhir. Dia ini kan kuliah S1 dan S2 di psikologi dan sering magang di tempat anak-anak berkebutuhan khusus, tapi pas Xiao Jie ngacak-acak ikan peliharaan Nian Qin sampai dipukulin lho pantatnya.

Walaupun mukulnya nggak keras, tapi kebayang aja memorinya akan membekas. Apalagi ini Xiao Jie diceritakan sebagai anak autis. Dia kan belajar soal kesehatan mental sampai bertahun-tahun, masa nggak concern sama hal beginian sih? Kayak karakternya jadi melenceng banget. Padahal sama Nian Qin yang udah ketus sama dia, dia aja bisa sabar dan baik.

Pertama kali lihat Wan Peng di drama ini, kesan pertamaku adalah mirip Dita Karang tapi ini versi kurusnya. Hanya saja, aku kurang suka dengan gaya ngomong Wu Yan (yang ternyata Wan Peng pun gaya ngomongnya begini) yang buru-buru dan kadang artikulasinya kurang jelas. Selain itu, aku kurang suka style Wu Yan. Kayaknya dari dia kuliah S1, S2, menikah, sampai jadi ibu nggak berubah.

Drama ini memang menyuguhkan banyak adegan keuwuan. Alurnya juga mudah dipahami. Hanya saja, backsoundnya rada creepy apalagi yang instrumen piano sama biola. Ditambah coloring dramanya rada gelap. Berasa kayak nonton film horor atau thriller. Apalagi kalau backsoundnya sudah diputar pas adegan di rumah Su Nian Qin yang gelap. Alih-alih romantis, kesan yang aku dapat malah horor.

Fokus cerita memang ada di couple Wu Yan-Nian Qin, tapi kita juga akan dibawa buat melihat kehidupan teman Wu Yan yang lain yaitu Wei Hao dan Xu Qian yang juga second couple dari drama ini. Dan ternyata kehidupan Xu Qian ini lebih menarik karena dia gadis miskin, ayahnya nggak jelas di mana, ibunya suka gonta-ganti pacar dan minta duit muluk, neneknya sakit, sementara dia harus kerja di corporate. Sedangkan cita-citanya adalah jadi penyiar radio dan passionnya ngeband.

Nggak ada tema yang mendalam banget di drama ini. Palingan yang paling banyak disinggung soal disabilitas, tapi itu pun di episode-episode awal. Musik, dunia broadcasting radio, atau psikologi cuma jadi tema pemanis dramanya. Nggak dibahas mendalam dan jadi peg atau cantelan dalam drama sampai selesai.

Aku nggak berekspektasi tinggi ke drama ini sih, tapi jujur setelah melihat dramanya ternyata ini melebihi ekspektasiku. Di separuh episode pertama sebenarnya aku udah bosan banget karena flat. Even banyak adegan uwu mereka saat pacaran, entah kenapa nggak menggugah seleraku. Tapi pas udah mulai konflik, baru aku penasaran sama drama ini. Untung aku nggak nyerah nontonnya.

Aku berekspektasi kalau sampai ending drama ini akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dengan Drama China yang lain. Berharapnya, setelah Nian Qin mendapatkan kembali penglihatannya, dia tetap berjuang dengan hidupnya yang jadi komposer musik, guru Braille, atau apapun itu. Pengen melihat bagaimana perjuangan hidup mantan difabel yang nggak mengenyam pendidikan sekolah (diceritakan Nian Qin ini nggak lulus SD).

Tapi ternyata, episode menuju akhir dramanya berubah jadi tipikal Drama China pada umumnya dengan lead male yang kaya-dominan-bucin. Nggak asing kan dengan karakter begini di Drama China?

Episode yang paling ganjal buatku adalah episode ending atau 24. Menurutku episode ini rada maksa dan nggak perlu ada juga nggak apa-apa. Sampai Nian Qin dan Wu Yan nikah aja itu udah bagus kok. Episode terakhir terlalu dipaksakan dengan menghadirkan kehidupan mereka setelah pernikahan. Belum lagi Wu Yan yang hamil, perutnya masih kecil, tiba-tiba aja udah melahirkan. How come?

Aku sampai mengulang lho adegan mereka di lift apartemen lamanya Nian Qin hanya demi lihat seberapa besar perut Wu Yan. Dan ternyata ini mah nggak kentara hamilnya sama sekali, cuma adegan dia pegang perut aja yang ditonjolkan terus. Makanya pas masuk RS, kukira dia akan keguguran. Lhaaa ternyata melahirkan. Mana adegan masuk RS-nya bukannya ditaruh di IGD dulu tapi langsung masuk semacam ruang operasi. Detail yang kayak gini masa sih sampai luput dalam sebuah drama besar?

Selain adegan hamil-melahirkan yang ganjil, bagian Wu Yan terkena PTSD ini juga nggak diselesaikan dengan baik. Padahal Wei Wao, sahabat Wu Yan bilang kalai Wu Yan depresi sampai suka halu soal Cheng Yin. Orang depresi aja nggak boleh dibiarkan begitu aja, lha ini diobati juga kagak malah adanya adegan Cheng Yin pamit dalam mimpi sama Wu Yan. Seketika genre dramanya berubah jadi horor karena aku memahami kalau Cheng Yin adalah roh hantu, bukan khayalan atau kehaluan Wu Yan.

Lalu, Xaio Jie, anak cowok di tempat Wu Yan magang S2 juga diceritakan menderita autisme. Tapi kok di episode akhir dia udah kayak orang normal. Lihat deh gimana dia berinteraksi sama Nian Qin dan gimana Nian Qin bersikap padanya. Kayak nggak ada apa-apa, padahal anak ini spesial.

Overall, walaupun banyak detail yang luput dan beberapa plot hole, aku suka drama ini. Ceritanya segar dan ngasih sudut pandang lain buat kita memahami orang-orang difabel.

Selamat hanyut dalam keuwuan Nian Qin-Wu Yan ya.

 

0 Comments
Previous Post
Next Post